ZMedia Purwodadi

Apapun Itu

Table of Contents

 


Menjadi "Bukan Apa-Apa"

Waktu berumur dua puluh dua, pertanyaan paling horor bagi Kiko adalah: "Nanti mau jadi apa?"

Saat itu, teman-teman kuliahnya punya jawaban yang mentereng. Ada yang mau jadi CEO startup, ada yang mengejar beasiswa ke luar negeri, dan ada yang sudah merancang lini bisnis fashion sendiri. Kiko? Dia hanya punya sebuah ijazah, laptop tua yang kipasnya berisik, dan ketakutan besar bahwa dia akan tertinggal.

Maka, Kiko mencoba segalanya. Dia ikut arus. Dia bekerja di sebuah agensi dengan jam kerja yang membakar habis energinya. Dia begadang, minum kopi instan bergelas-gelas, dan membaca buku-buku motivasi tentang bagaimana cara menaklukkan dunia sebelum usia tiga puluh. Dia mengejar definisi "menjadi seseorang" yang diagungkan oleh media sosial.

Namun, alih-alih sukses, Kiko justru tumbang. Pada usia dua puluh enam, dia mengalami burnout parah. Tubuhnya protes, pikirannya menyerah.

Saat itulah Kiko memutuskan untuk pulang ke kota kecilnya.


Menemukan Ritme yang Melambat

Sekarang, di usianya yang menginjak tiga puluh satu, jika Anda bertanya kepada orang-orang di sekitarnya tentang siapa Kiko, jawabannya pasti biasa saja.

Kiko tidak menjadi CEO. Dia tidak punya bisnis berskala nasional. Namanya tidak pernah masuk dalam daftar "30 Under 30". Di atas kertas, Kiko tidak menjadi "apa-apa".

Dia hanya seorang pria yang bekerja sebagai staf administrasi paruh waktu di sebuah toko buku lokal. Sisa waktunya dia gunakan untuk merawat tanaman monsteranya yang mulai rimbun, menyeduh kopi manual di teras rumah setiap sore, dan sesekali mengajari anak-anak tetangga bermain gitar.

Apakah Kiko gagal? Dulu, dia akan menjawab ya. Tapi sekarang, jawabannya sama sekali berbeda.

"Dulu saya pikir hidup itu seperti tangga yang harus dipanjat tanpa henti," kata Kiko suatu sore. "Tapi ternyata, hidup lebih mirip sebuah ruangan. Kita tidak harus selalu naik; kita hanya perlu membuatnya nyaman untuk ditinggali."


Mengapa "Tidak Menjadi Apa-Apa" itu Tidak Apa-Apa

Dunia sering kali menjual narasi bahwa setiap orang harus luar biasa. Kita dipaksa percaya bahwa jika kita tidak meninggalkan warisan besar atau memiliki pencapaian yang megah, maka hidup kita sia-sia.

Tapi cerita Kiko mengingatkan kita pada satu hal penting: menjadi biasa saja adalah sebuah hak istimewa yang sering kita lupakan.

Kiko tidak memiliki ruang rapat yang mewah, tapi dia punya waktu tidur delapan jam yang nyenyak. Dia tidak memiliki pengikut ratusan ribu di media sosial, tapi dia punya waktu nyata untuk mendengar cerita ibunya tanpa terdistraksi notifikasi pekerjaan. Kiko tidak menjadi "apa-apa" di mata dunia, tapi dia menjadi "segalanya" bagi kedamaian pikirannya sendiri.


Catatan untuk Pembaca Blog

Jika hari ini kamu merasa cemas karena merasa belum menjadi "siapa-siapa" di usia sekarang, tarik napas dalam-dalam.

Hidup ini bukan kompetisi siapa yang paling bersinar di akhir cerita. Tidak apa-apa jika mimpimu hari ini hanyalah hidup dengan tenang, membayar tagihan tepat waktu, dan bisa menikmati secangkir teh hangat di malam hari tanpa rasa cemas.

Kamu tidak harus menyelamatkan dunia atau menjadi tokoh utama di panggung besar untuk dibilang berharga. Terkadang, berhasil bertahan hidup dan menjadi manusia yang ramah pada diri sendiri sudah lebih dari cukup.

Sebab pada akhir cerita, menjadi "bukan apa-apa" di mata dunia sering kali adalah cara terbaik untuk menjadi "dirimu sendiri" seutuhnya.

Reza Muhammad
Reza Muhammad the other side of another person

Posting Komentar